Contoh Latar Belakang Masalah

Posted: 30 Agustus 2010 in Uncategorized

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SEKOLAH INKLUSI

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

    Pendidikan merupakan  usaha sadar seseorang  untuk meningkatkan kualitas pribadi baik secara jasmani maupun rohani. Pembangunan pendidikan merupakan bagian penting dari upaya menyeluruh dan sungguh-sungguh untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Keberhasilan dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional. Berdasarkan hal tersebut, pembangunan pendidikan mencakup berbagai dimensi yang luas dan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik dengan sistem terbuka dan multimakna.

    Pendidikan secara faktual merupakan pengalaman belajar seseorang sepanjang hidup. Seperti yang dinyatakan dalam pernyataan resmi Unesco tentang pendidikan untuk semua (education for all atau EFA) pada tahun 1990. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa setiap orang di dunia ini berhak untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Artinya pendidikan dapat dilakukan dengan tanpa mengenal batas usia, ruang, dan waktu. Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan dan Pemerintah wajib untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang menunjang keberlangsungan proses pendidikan.

    Dengan adanya pendidikan yang merata akan melahirkan bangsa yang maju, adil dan makmur. Maka dari itu, hendaknya pemerintah menghimbau masyarakat agar mengenyam pendidikan Wajar Dikdas Sembilan Tahun (Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun). Pemerataan pendidikan juga harus bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat yang mempunyai kelainan atau disebut anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun yang normal. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pada Pasal  5 Ayat 1 s.d. 4 menyebutkan bahwa :

    1. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
      pendidikan yang bermutu.
    2. Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
    3. Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
    4. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.

    Pendidikan juga tidak mengenal pembatasan bentuk dan kegiatan, dalam hal ini pendidikan dapat dilakukan di sekolah, luar sekolah, pondok pesantren, perguruan-perguruan, dan lain sebagainya. Kesadaran masyarakat (global) terhadap hak azasi manusia (HAM) semakin tinggi. Hal ini menyebabkan meningkatnya apresiasi terhadap keberagaman atau perbedaan. Kesadaran tersebut secara tidak langsung mengubah paradigma penyeragaman dan penyamarataan menjadi sesuatu yang tidak lazim. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan, melainkan sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Karena dengan adanya perbedaan setiap manusia dapat berinteraksi untuk saling melengkapi kekekurangannya. Oleh karena itu adanya perbedaan di antara manusia tidak harus diperlakukan ekslusif.

    Pemerintah kini lebih bijak dengan memberi perhatian bagi masyarakat yang mempunyai kelainan agar bisa sejajar dengan mereka yang normal salah satunya menyelenggarakan sekolah inklusi. Sekolah ini merupakan sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk dapat belajar bersama dengan peserta didik yang normal. Hal ini sesuai dengan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 yaitu pasal 32 tentang layanan pendidikan khusus menyebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikutu proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

    Pendidikan inklusif (inklusi) lahir sebagai bentuk ketidakpuasan penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan menggunakan sistem segregasi. “Sistem segregasi adalah sistem penyelenggaraan sekolah yang membedakan antara sekolah reguler dan sekolah bagi anak-anak yang memiliki kelainan atau anak-anak berkebutuhan khusus” (P4TK TK dan PLB, 2010:1). Sistem segregasi dipandang tidak berhasil. Sistem ini tidak dapat mempersiapkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat hidup secara mandiri. Sistem segregasi tidak mampu lagi mengemban misi utama pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Sistem segregatif cenderung diskriminatif, eksklusif, mahal, tidak efektif dan tidak efisien, serta outputnya tidak menjanjikan sesuatu yang positif. Model segregatif tidak menjamin kesempatan anak berkelainan mengembangkan potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda dengan kurikulum sekolah biasa. Kecuali itu, secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berintegrasi dengan masyarakat normal, tetapi mereka dipisahkan dengan masyarakat normal.

    Upaya-upaya tersebut tidak terlepas dari berubahnya pandangan tentang layanan pendidikan bagi para penyandang cacat atas dasar pendekatan humanistik. Pendekatan ini sangat menghargai manusia sebagai manusia yang sama (equal) dan memiliki kesempatan yang sama besarnya (equity) dengan manusia lainnya untuk mendapatkan pendidikan.

    Inklusi pada hakekatnya adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial yang menghargai keberagaman, menghormati bahwa semua orang merupakan bagian yang berharga dari masyarakat dengan tanpa memandang perbedaan. Tim peneliti P4TK TK dan PLB (2010:1) mengemukakan pendapatnya tentang falsafah inklusi bahwa: “Inklusi memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang sama sederajat walaupun berbeda-beda, manusia sebagai individu diciptakan untuk satu masyarakat, sehingga masyarakat yang normal ditandai dengan adanya keberagaman individu”.

    Oleh karena itu, keberagaman yang terjadi di satu masyarakat adalah sesuatu yang lumrah (“normal”). Keberagaman individu yang terjadi di masyarakat dapat berupa perbedaan sosial kultural, sosio-emosional, kelainan fungsi anggota tubuh, kelainan fungsi mental dan inteketual, dan sebagainya.

    Pendidikan inklusif (inklusi) adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (P4TK TK dan PLB, 2010:1). Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil.

    Berdasarkan batasan tersebut, pendidikan Inklusi dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Semangat penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi.

    Sampai saat ini pemerintah sudah menyediakan layanan sekolah inklusi di berbagai daerah mulai tingkat SD s.d. SMA. Sosialisasi sangat penting bagi  ABK karena dengan begitu akan sangat membantu untuk kesembuhan mental dan menyiapkan diri supaya kelak bisa menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri dan berpotensi.

    Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beiman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis (UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Pasal 2)

    Salah satu tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Pasal 2 tersebut adalah agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Untuk mencapai tujuan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini sekolah inklusi) harus mengarah kepada tujuan pendidikan tersebut.

    Salah satu mata pelajaran yang harus disampaikan agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Menurut Ahmad D. Marimba (Starawaji, 2010:1) ‘Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam’.

    Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan, Allah SWT telah menyusun landasan pendidikan yang jelas bagi seluruh umat manusia melalui Syariat Islam. termasuk tentang tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI). Yang salah satunya adalah para peserta didik diharapkan menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Pasal 2.

    Begitu juga dengan Sekolah Inklusi yang proses pembelajarannya menggabungkan siswa normal dan anak berkebutuhan khusus (ABK). di antara ABK tersebut adalah mereka yang yang menyandang  tuna netra, tuna rungu, autis dan yang mempunyai keterbelakangan mental lainnya. Sekolah Inklusi harus mampu memberikan Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap anak didiknya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa terutama terhadap siswa ABK. Karena pada umumnya siswa ABK itu belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah sekolah yang khusus diperuntukan bagi para siswanya ABK yang mempunyai keterbelakangan mental.

    Berdasarkan studi pendahuluan berupa kunjungan ke SDN Cisarua yang berlokasi di Jln. Ciaul Pasir No. 32 Cikole Kota Sukabumi dan melakukan wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah, diperoleh informasi bahwa SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi menyelenggarakan Pendidikan Inklusi mulai tahun 2002. Awalnya SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi merupakan sekolah dasar formal biasa yang para peserta didiknya anak-anak normal seperti halnya sekolah-sekolah lainnya. Namun, seiring keinginan masyarakat terutama para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Sehinggga pada tahun 2002 SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi menyelenggarakan pendidikan inklusi dan mendapat izin dari Dinas Pendidikan Nasional.

    Dengan kata lain, SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi merupakan salah satu Sekolah Inklusi di Kota Sukabumi yang kini sebagian dari siswanya adalah anak-anak yang mempunyai kelainan atau ABK. Dengan demikian, SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan Sekolah Dasar yang lain. Karena selain harus mendidik para siswanya yang normal juga harus mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus (ABK).

    SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi yang dikepalai oleh ibu Hj. Rodiah dan dibantu oleh 24 orang tenaga pengajar, 16 pengajar di antaranya menangani siswa ABK, pada tahun ini memiliki peserta didik sebanyak 535 siswa yang di dalamnya ada siswa ABK sebanyak 36 siswa. Di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi ini tidak ada kelas khusus untuk ABK mereka belajar bersama-sama dengan siswa normal lainnya. Walaupun demikian, siswa yang normal tidak merasa terganggau dengan kehadiran siswa ABK. Begitu juga sebaliknya, siswa ABK tidak merasa diperlakukan lain oleh siswa normal lainnya.

    Proses pembelajaran terus dilakukan oleh SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi terhadap para siswanya. Seiring berjalannya waktu, setelah SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi ini mengadakan Pendidikan Inklusi ternyata berdampak lain pada hasil pembelajaran di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi. Di antara dampak tersebut adalah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mengalami penurunan. Hal ini terjadi setelah SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi mengadakan Pendidikan Inklusi.

    Dampak lain yang terjadi setelah SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi mengadakan Pendidikan Inklusi adalah pada proses pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agam Islam (PAI) mengalami perubahan. Karena dilihat dari segi fisik, para siswa ABK di SDN Cisarua yang menyandang berbagai kelainan dan  keterbatasan  memerlukan penanganan khusus terhadap siswa ABK tersebut dibandingkan dengan siswa normal lainnya. Termasuk di dalamnya adalah proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

    Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, ada beberapa masalah yang perlu diteliti oleh penulis. Di antaranya adalah: Mengapa prestasi siswa SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi pada mata pelajaran PAI mengalami penurunan setelah membuka Pendidikan Inklusi?, dan mengapa terjadi perubahan pada proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi?. Dengan hal itulah, penulis merasa perlu melakukan penelitian secara komprehensif dan mendalam melalui penelitian yang dituangkan dalam judul: “PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH INKLUSI” (Penelitian di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi).

    1. B. Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang di atas, maka inti masalahnya dapat diidentifikasi bahwa setelah SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi membuka Pendidikan Inklusi, prestasi siswa SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi pada mata pelajaran PAI mengalami penurunan dan proses pembelajaran PAI di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi mengalami perubahan.

    Dari identifikasi masalah tersebut, permasalahan dirumuskan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

    1. Bagaimana kebijakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi?
    2. Bagaimana program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi?
    3. Bagaimana implementasi kebijakan dan pelaksanaan pembelajaran PAI di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi?
    4. Apa faktor pendukung dan penghambat bagi pelaksanaan pembelajaran PAI di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi?
    5. Bagaimana evaluasi dan tingkat keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi?
    1. C. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi. Secara rinci, tujuan penelitian yang ingin penulis ketahuai adalah untuk:

    1. Mengetahui bagaimana kebijakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi.
    2. Mengetahui  bagaimana program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi.
    3. Mengetahui bagaimana implementasi kebijakan dan pelaksanaan pembelajaran PAI di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi.
    4. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat bagi pelaksanaan pembelajaran PAI di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi.
    5. Mengetahui bagaimana evaluasi dan tingkat keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Cisarua Cikole Kota Sukabumi.
    1. D. Kegunaan Penelitian

    Berkaitan dengan kegunaan, penelitian ini memiliki kegunaan teoritis dan kegunaan praktis.

    1. Secara Teoritik

    Penelitian ini secara teoritik berguna bagi para ahli sebagai bahan acuan dan kajian ilmu pengetahuan tentang proses pembelajaran pendidikan agama Ialam (PAI) di Sekolah Inklusi.

    1. Secara Praktis

    Penelitian ini secara praktis diharapkan berguna sebagai acuan bagi pengembangan pendidikan agama Islam (PAI) khususnya bagi sekolah yang menyelenggarakan Pendidikan Inklusi.

    1. E. Kerangka Pemikiran

    Kerangka berfikir atau kerangka pemikiran adalah dasar pemikiran dari penelitian yang diintesiskan dari fakta-fakta, observasi, dan kajian kepustakaan (Riduan, 2008). Kerangka pikir penelitian adalah kerangka yang mendasari operasional penelitian. Kerangka pikir penelitian merupakan sejumlah asumsi-asumsi, konsep-konsep, dan atau proposisi-proposisi yang telah diyakini kebenarannya sehingga dapat mengarahkan alur fikir dalam pelaksanaan penelitian. Kerangka pikir penelitian identik dengan kerangka konseptual yang memiliki peranan sebagai theoretical perspective dan a systematic sets of beliefs, penetapan batasan-batasan penelitian, dan berfungsi sebagai theoretical leads dalam menemukan dan mengembangkan hipotesis baru dan proposisi-proposisi baru berdasarkan pengalaman empirik.

    Pendidikan merupakan sebuah tuntunan dan kewajiban bagi setiap individu. Dengan pendidikan seseorang akan memperoleh ilmu, karena ilmu itu sangat diperlukan untuk bekal hidup. Dengan ilmu seseorang akan menemukan kemudahan dalam hidupnya, dengan ilmu seseorang akan menjadi mulya, mulya di mata manusia lebih-lebih di hadapan Allah swt.

    Hal yang paling pertama diajarkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril ketika mendapatkan wahyu adalah pendidikan. Banyak ayat al-Qur’an yang berbicara tentang pendidikan. Diantaranya adalah:

    1. surat al-Alaq ayat 1-5:

    ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

    1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

    2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

    3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

    4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

    5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

    2. Surat ar-Rahman ayat 1-6

    ß`»oH÷q§9$# ÇÊÈ zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ šYn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ çmyJ¯=tã tb$u‹t6ø9$# ÇÍÈ ß§ôJ¤±9$# ãyJs)ø9$#ur 5b$t7ó¡çt¿2 ÇÎÈ ãNôf¨Z9$#ur ãyf¤±9$#ur Èb#y‰àfó¡o„ ÇÏÈ

    1.  (Tuhan) yang Maha pemurah,

    2.  Yang Telah mengajarkan Al Quran.

    3.  Dia menciptakan manusia.

    4.  Mengajarnya pandai berbicara.

    5.  Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

    6.  Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada nya.

    Pendidikan merupakan milik semua orang tanpa adanya diskriminasi tertentu. Oleh karena itu, pendidikan harus dinikmati oleh semua kalangan tanpa membeda-bedakan suku, ras, golongan, agama, dan bahkan perbedaan bentuk fisik.

    Oleh karena itu, semua pihak harus mendukung program pemerintah yang menyediakan layanan sekolah inklusi. Pendidikan inklusi atau sering juga disebut dengan sebutan “inklusif” merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan tertentu dan anak-anak lainnya yang disatukan dengan tanpa mempertimbangkan keterbatasan masing-masing. Menurut Direktorat Pembinaan SLB (2007) Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak belajar bersama-sama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual, sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal. Semangat pendidikan inklusif adalah memberi akses yang seluas-luasnya kepada semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

    Kerangka Pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut ini:

    (Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran)

    About these ads

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s